Kamis, 2009 Juli 16

Tetep asik




Kepada teman-teman yang kenal saya lalu membaca posting saya sebelum ini, i just wanna tell you guys, bahwa aku masiiiih seperti yang duluuuu (dengan gaya Dian Pisesha) ahauahuhauha. Ketika saya memutuskan menikah pun, banyak teman yang keheranan, karena buat mereka saya bukanlah tipe perempuan yang tujuan hidupnya adalah menikah. Dan memang benerrr, karena yang jadi tujuan hidup saya adalah menjadi kaya raya dan masuk surga hihiihihiih. Dalam pikiran single saya dulu, menjadi istri itu sama sekali tidak menyenangkan. Ujung-ujungnya perempuan pasti kehilangan eksistensinya dan menjadi sangat terbatas serta kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Untungnya itu tidak terjadi pada saya. Jika saya sekarang melakukan berbagai aktivitas "keistrian" heheheheh, itu bukan karena saya telah berubah menjadi bentuk stereotipik istri a.k ibu-ibu pisan lah (seperti kata neneng enno), bukan sama sekali. Mencoba berbagai aktivitas baru ini cuma bagian dari kompromi saya pada kehidupan sosial. Secara ya mak, emang dari dulu ijk gak pernah bersosialisasi sama tetangga, itu karena tetangga saya sebelum disini kerjaannya cuma ngegosipin artis, ngomongin sinetron, dan menggunjingkan tetangga, males kan bok! Tapi di lingkungan yang sekarang, ketika tetangga-tetangga saya adalah orang-orang well educated dan memang gak pada doyan ngegosip (berdasarkan keterangan orang-orang sekitar), maka saya memutuskan untuk..mm..kayaknya gak papa juga kalo gw gaul dikit ama tetangga. Yaaa cuma menambahkan sedikit bagian baru dalam hidup saya. The rest of me are still the same. Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, seorang teman bilang "ih lu ibu-ibu banget sih sekarang, gak asik lagi lu ah". Hehehehehe bisa dimaklumi siiih kenapa dia berkomentar kayak gitu, saya pun pernah berkomentar gitu pada seorang teman yang setelah menikah memang langsung berubah kayak Ibu-ibu PKK. But in my case, no. Karena saya masih asik hahahahahaha. Tenang sob, saya ikut arisan, pengajian dan senam itu sama sekali gak merubah kepribadian saya, at all.


Mau ngobrol jorok seperti biasanya? Hayu! Malahan sekarang saya lebih jago laah, soalnya bukan Cuma tau teori hauhauhauah


Mau ngobrol idealisme kiri? Hayu! Saya masih out of the box kok! Hihihihhi


Mau ngomongin filsafat? Hayu!


Mau ngobrol soal segala macem? Siapa takut



Wahai kawan-kawanku sekalian yang sering ngerumpi ngalor ngidul sama saya, tenaaang, kita masih bisa ngobrol asik kok, karena saya masih asik! huahauhauhauahauhauh

Minggu, 2009 Juli 12

Tanpa judul

Duluuu sekali, saya membayangkan diri saya samenleven dengan seorang fotografer alam dan olahraga ekstrim. Tidak perlu ikatan hukum negara dan agama. Ikatannya cuma komitmen kami berdua. Pergi kemana suka, lakukan apapun suka, tak perlu mikir harus punya rumah, tak usah ribet dengan urusan meneruskan generasi, tak perlu melaksanakan kewajiban sebagai warga negara, sepertinya seru. Siapa sangka, beberapa tahun setelah khayalan tengah hari itu, terdamparlah saya di sebuah kota yang ya salaaam panasnya! Saya berada didalam sebuah rumah, bersama seorang suami, dan memasak! Hahahahaha. Hidup saya pun sekarang jauh lebih teratur dan sehat. Sejak kadar lemak di tubuh saya terus naik dan mulai mengganggu kesehatan reproduksi saya, saya berkomitmen untuk hidup sehat. Yaaa setidaknya saya mulai berolahraga. Kalo urusan diet makanan mah nanti aja dulu hehehe. Susah mak! Dan untungnya upaya saya untuk menurunkan kadar lemak ini didukung oleh lingkungan sekitar. Suatu hari, tetangga belakang rumah ngajakin saya senam. Bukan aerobik atau senam kegel, tapi senam LANSIA (jangan ketawa lo!). Yaaa karena memang tetangga saya itu tergolong lansia. Usianya lebih dari 70 tahun tapi masih segar bugar. Saya aja kalah stamina sama beliau kalo melewati tanjakan. Ih malu ati! Pertama kali senam, rasanya gimanaaa gituu. Ya iyalah, wong semuanya seumuran mbah saya. Mulai pertama datang, kami langsung salam-salaman kayak lebaran, dan ternyata ini ritual wajib ketika bertemu. Lalu saya mulai ditanya kerja dimana, asal darimana dan bla bla bla. Eh kok lama-lama saya malah nyaman berada ditengah eyang-eyang ini, walaupun perilaku saya mesti saya jaga benar. Yaaa bicara pun dengan intonasi sehalus mungkin dan menggunakan idiom-idiom jawa halus. Berada di tengah mereka, seperti sedang berada di kamar almarhumah mbah saya. Kadang wangi kayu putih, kadang wangi melati, lalu semu-semu wangi batik tua yang dikamper. Wangi masa lalu...


Selain ikut senam Tera (senam lansia) dua kali seminggu, saya pun rajin bersepeda. Tentunya belajar dulu doong. Karena buat saya tidak berlaku itu logika kebanyakan yang katanya orang yang bisa naek motor pasti bisa naik sepeda. Well, saya tidak. Motor dulu baru sepeda heheheh, dan eeeh ternyata ban sepeda yang diameternya kecil itu kuat juga mengangkut saya hahahahaha, dan mulailah saya ngegoes satu-satu. Awalnya masih campur, campur kaki! Hahaha, lama-lama lancar mak! Yihhiii kedua kaki saya ada di pedal euy dan bersepedalah saya ke alun-alun kota yang jaraknya gak begitu jauh. Ternyata menyenangkan juga naik sepeda. Gak bikin dada sakit. Beda sama kalo saya lari. Rasanya kok seperti seluruh dunia menghimpit saya. Lebay ah pop!


Oh selain teratur berolahraga, saya pun mulai ikut kegiatan bermasyarakat. PENGAJIAN DAN ARISAN! HAUHAUAHUAHA! Suatu kali, saya bilang mau berangkat pengajian, dan suami saya speechles. Ya iyalah, si hubby taunya saya manusia sekuler banget dan anti deh ngumpul sama segala macem kegiatan ibu-ibu itu. Tapi eng ing eng...sekarang saya bergabung dalam dua kegiatan yang dulu saya hindari banget. Dan ternyata saya menikmatinya. Dulu, dalam kepala saya, dua kegiatan itu cuma sarana bergosip para ibu rumah tangga kurang kerjaan. Kalo mau ngaji mah mending ngaji sendiri aja, mau dapet duit ya nabung aja. Eh ternyata, arisan dan pengajian ibu-ibu di RW saya ini asli arisan dan pengajian. Pas pengajian, aktivitasnya ya cuma ngaji, makan dan arisan PKK yang isinya emang tok ngumpulin duit. GAK ADA GOSIP! Pun ketika arisan. Pesertanya cuma 20 orang ibu-ibu di sekitar rumah saya. Aktivitasnya, ngumpulin duit, ngundi, dan makan! Ahahahaha. Ah saya senang!. Asli loo gak ada acara ngegosip. Lagian, acara ngumpul-ngumpul gini kan bisa jadi sarana promosi usaha si suami heheheheh. Jadilah saya dengan gak punya malunya jadi PR & Promotion buat dia. Haduuuh beneran deh bok, saya sendiri sampe takjub dengan kesediaan saya untuk lebih memasyarakat, karena biasanya saya cuma bersosialisai dengan orang-orang yang ada urusan kerja sama saya. Tapi siapa sangka bahwa saya akan nyaman berada ditengah para ibu ini. Siapa sangka bahwa saya merasa sangat tenang ketika mengaji dan mendengar orang mengaji. Oh mama, kau pasti takjub sekali sekarang ini pada anakmu yang dulu pernah bikin kau nangis dengan bilang "emang kenapa kalo atheis?". Ya mama, sekarang aku jadi muallaf hahauahuahauhahuah. Mari semuanyaa bilang ALHAMDULILLAH!

Jumat, 2009 Juni 26

Yellow seed..

Hai Yellow seed

Tahukah kamu bahwa aku telah mati berulang kali?

Tahukah kamu bahwa kebaikan tuhan memberiku hidup lagi dan lagi adalah siksaan?

Karena ketika pagi ini ia memberiku satu kesempatan lagi, maka pada saat yang sama ia telah membunuhku

Yellow seed, tahukah kamu bahwa aku sedang menjalani nerakaku?

Cukup seramkah itu bagimu?

Orang bilang, tuntutlah ilmu ke negeri china. Well, aku akan pergi ke negeri China jika disana aku temukan tips "how to" menikmati nerakaku

Yellow seed, ini sisa-sisa diriku yang kau lihat

Remah-remah asa yang berhasil kukumpulkan dari puing kehancuranku yang berjalan amat lambat tapi pasti ini

Aku mohon doa, semoga aku cepat mati dan pindah ke alam yang katanya alam transisi sebelum masuk neraka, neraka keduaku. Setidaknya ada suasana baru, walaupun ujung-ujungnya tetap neraka juga

Tapi hey, kata mereka orang Indonesia penuh rasa bersyukur. Jadi mungkin aku akan coba juga bersyukur, setidaknya aku punya lingkungan baru, yang belum tentu lebih baik, bisa saja lebih parah, tapi setidaknya baru. Neraka keduaku

Yellow seed, bolehkah aku meneguk racun ini sekarang?


Sabtu, 2009 Juni 13

Berpacu dalam Melodiiii!!!

SAUDARA-SAUDARAAA! MARII KITA MULAAI!!! BERPACU DALAM MELODIIIII!!!! TEBAK JUDUL LAGU DAN PENYANYINYAA!


1. Wonder Mall - Aquase

2. Plis The Genlay - ?

3. No ting comeback - Cindy Kodner

4. Flis for giet me - Brian Adam

5. Spesgle – Viva Les Vorever

6. Mickel Bable – Home

7. Maria Ceri – Hero

8. Celen Dion – My Angel

9. Blad men - ?


TULIS JAWABAN ANDA DI KOLOM KOMEN, DAN BAGI SATU ORANG PEMENANG YANG BERHASIL MENJAWAB BETUL SEMUA PERTANYAAN, AKAN MENDAPATKAN VOUCHER MENGINAP TIGA HARI TIGA MALAM DI HOTEL TERMEWAH DI RWANDA

BERPACUUU DALAM MELODIIII!!



*Untuk temen-temen yang gampang stres, cobain deh jadi penyiar. Pendengar emang hiburan yang paling poll hahahahahhahahahah!

Jumat, 2009 Juni 12

kok takut siiih?!

Saya : “yang, kalo aku mati duluan, kamu pasti cepet kawin lagi”
Dia : “Nanti kalo kamu siaran,aku minta lagu How am I supposed to live without you ya, buat opening ” (terus nyium kening saya)


Hihihihih, si suami emang paling bisa deh. Gak tau kenapa kok ya suasana hari ini aneh banget, membuat perasaan ini jadi tak menentu *tsaaah. Pas siangnya saya bilang ke suami soal mati duluan, eee pas closing siaran tadi tiba-tiba bilang “sampai ketemu besok yaaa kawan kiss, kalo saya masih ada hehehehe”. WTF! What kind of closing was that ?! Mana ada pendengar yang sms “mba, pulangnya ati-ati loo, sekarang malem jumat”. Monnyongg!!! Alhasil, saya jadi parnoan mulai dari keluar kantor. Dengan posisi radio saya yang di dataran tinggi dan tempatnya jin buang anak pula, tentulah saya parno, apalagi malem ini. Mulai keluar gerbang jam 11 lebih 5, saya udah celingukan, memastikan gak ada truk atau apalah itu yang bisa nabrak saya, atau siapa tau ada pendengar sakit jiwa yang benci sama saya gara-gara lagunya gak diputer terus dia bawa clurit dan mau nyakitin saya. Diseberang gerbang kantor ada seseorang duduk di atas motor, seperti sedang nunggu sesuatu. Mungkinkah itu pendengar sakit jiwa yang…? Saya memacu motor saya. Loh loh, kok ada satu motor yang tiba-tiba ada di belakang saya, darimana munculnya?!. Jangan-jangan itu orang yang tadi nangkring nunggu sesuatu di sebrang gerbang? Saya cepetin motor saya. Aha! Dia gak ngikutin. Saya gas poll motor saya, eee dia gak ngikutin juga, hahahha! Rupanya saya geer. Begitu nyampe di persimpangan yang lumayan rawan, saya parno lagi. Motor saya lambatin benerrr, clingukan kanan kiri memastikan gak ada kendaraan yang lewat. Begitu sampe di daerah yang agak terang eee kok saya malah nangis. Baru kali itu saya bener-bener takut mati. Mengingat sudah dua kali dalam sehari saya menyebut soal mati, saya mulai berpikir, jangan-jangan ini pertanda. Hiiii! Kalo udah kayak gitu, saya jadi sebel sama si suami yang kok yaaa gak jemput sayaaa. Aku butuh teman seperjalanaaaan you knoooow? Selama di perjalanan pulang, perasaan saya gak enak terus. Saking takut tiba-tiba ada yang nabrak, saya jadi sangat hati-hati memacu kendaraan. Kecepatan pun cuma 30 km/jam hihihihihihi. Pas belok juga ati-atii banget dan saya mengurangi aktivitas rutin saat pulang, melihat sekitar. Pandangan lurus ke depan, parno, lalu mulai sering merinding. Menjelang rel kereta api deket rumah, parno makin menjadi-jadi. Sebelum melewati rel, tentunya celingukan dulu memastikan gak ada kereta yang lewat, padahal jelas-jelas ada palang kereta, ya pasti bunyilah pooop kalo ada kereta. Tapi yaa namanya juga parno. Eh eh kampreeet!! Cuma beberapa senti setelah ban belakang saya melewati rel, mesin motor mati. Ya salaaam! Untung cepet nyala lagi. Begitu nyampe rumah langsung ngusap muka, ganti baju dan mengalihkan perhatian sendiri dengan nulis. Sampai tulisan ini diturunkan (tsaaah! Bahasa gueee), saya masih parno dan tahu tidak?, saya kok takut, kalo besok gak akan bangun lagi





Minggu, 2009 Juni 07

Journey De Kos

Sore itu entah yang keberapa kalinya ia berdiri didepan gerbang bangunan mewah itu. Kedua tangannya berpegang pada terali tembaga berukir indah, sesekali ia elus. Kedua matanya menyapu bangunan itu, dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan. Ada 20 kamar, ia berhitung. Atas 10, bawah 10. Lantai satu dan dua dihubungkan dengan sebuah tangga keong dari tembaga. Setiap titiannya lebar, sepertinya aman dan nyaman untuk diinjak, tidak seperti di kos-kosan pada umumnya, dengan titian tangga yang sempit, bikin takut setiap kali menjejakkan kaki. Kurang satu inci saja kita sudah terpeleset. Tapi tangga bangunan ber-cat fucia itu tidak. Ia lalu beringsut ke kiri, menjauhi sudut pandang penjaga kos-kosan. Kali-kali ia terlihat lalu dituduh mau mencuri atau memata-matai salah satu penghuni. Bisa berantakan hobinya.
Ah.. sudah setengah jam ia didepan rumah itu. Terkesan gila memang. Tapi ia tidak gila. Jika orang lain punya hobi olahraga atau bermusik, ia punya hobi mengamati kos-kosan yang menurutnya bagus. Tidak gila kan? Tidak sedikit yang mempertanyakan hobinya. Apa asiknya mengamati kos-kosan? malah, bukankah itu berbahaya? salah-salah, bisa dituduh mau berbuat jahat. Nah, untuk alasannya bisalah kalian bilang dia agak gila. Satu saja sebab ia senang sekali berdiri didepan gerbang kos-kosan, sambil sesekali mengelus gerbangnya, lalu menghitung berapa kamar yang dimiliki bangunan yang ia lihat. Hobinya ini untuk memberikan dorongan positif pada impiannya, menjadi JURAGAN KOS. Salahkan Rhonda Byrne untuk teori The Secretnya. Tapi ternyata cara ini berhasil untuk membakar semangat.
Jika membuat perencanaan hidup sama dengan proses mendirikan sebuah kos-kosan, maka sekarang ini dalam benaknya, sedang sibuklah itu para tukang-tukang berukuran liliput. Ada yang mengangkut batu, ada yang mengayak pasir, ada pula yang sedang mengaduk semen. Semuanya bekerja untuk satu tujuan, mendirikan kos-kosan impian. Disudut lain dari benaknya, sebuah sel mengilat terang benderang sedang membuat orat-oret. Banyak sekali huruf dan angka. Sel berbentuk tidak jelas itu tampak serius, membuat sesuatu yang dalam kehidupan manusia disebut strategi pencapaian tujuan. Ah cerita ini sepertinya makin serius, tidak lucu. Sudahlah kita tinggalkan saja para tukang liliput dan sel berbentuk tidak jelas itu, biar mereka fokus pada pekerjaannya. Mariiii

Minggu, 2009 Mei 24

Tabrak lari


Sore ini beda. Saya tidak mengambil rute biasa untuk jalan pulang. Sedang bosan lewat jalur kota, jadi saya dan suami ambil jalan melewati pedesaan, dimana pom bensin terdekat masih puluhan kilometer lagi didepan sana. Kata si suami, rute ini dulu dihindari orang karena tidak aman, banyak garong karena sama sekali tidak ada penerangan. Sekarang, garong masih ada tapi jauh berkurang, penerangan jalan pun sudah ada beberapa. Lumayanlaaah. Satu hal yang sangat membuat saya takjub adalah bahwa ada banyak lapangan bola di jalur yang saya lewati ini. Setiap 20 meter saya melihat lapangan bola luas, yang semuanya terisi oleh kesebelasan desa yang sedang bertanding. Ada anak-anak, remaja bahkan bapak-bapak. Ada lebih dari 10 lapangan bola. Pantesan dari tadi saya tidak melihat ada orang gemuk, rupanya orang sini tidak jadi gumpalan lemak karena banyak sarana untuk olahraga.



Lagipula, udara disini masih bagus. Sawah dimana-mana, pemukiman sedikit dan kendaraan pun sedikit. Mana jauh dari kota pula. Bahkan ketika saya menghirup udara sore pun segarnya masih terasa. Saya buka helm untuk membiarkan angin menerpa saya banyak-banyak. Ini salah satu yang saya syukuri ketika harus pindah ke sebuah kota kecil yang banyak bagiannya masih bermodel desa. Mulai dari kultur sosial, lingkungan, segala nuansa yang bisa kita temui dalam sebuah tempat, sama sekali berbeda dengan perkotaan, dan ini memberikan banyak inspirasi.



Termasuk ketika matahari sudah rehat bersinar. Jika saat maghrib, saya masih berkendara, saya akan direpotkan dengan serbuan serangga kecil sampai besar yang mengarah ke mata. Sebetulnya yang mereka kejar adalah cahaya lampu sorot tapi entah kenapa mereka malah menyasar mata. Jika saya tutup kaca helm, akan terdengar suara tubuh-tubuh serangga menghantam kaca. Pretak! Pretak! Pretak! Dengan tempo sangat cepat saking banyaknya serangga yang jadi korban tabrak lari, atau lebih tepatnya bunuh diri. Mati semut karena manisan, ini peribahasa yang tepat buat para serangga itu. Kiranya bukan cuma semut, manusia pun seringkali "mati karena manisan".